MENGHARGAI WAKTU UNTUK BELAJAR



MENGHARGAI WAKTU UNTUK BELAJAR

“ Andi, bangun nak, sudah jam 9 ini.” Ibu Fatimah menggoyang-goyangkan bahu anaknya yang pulas tidur.
“ Loh, ini kan hari minggu, bu. Kan libur sekolah.” Protes Andi.
“Masa’ iya anak ibu tidur pagi, ayo kepasar beli sayur dan keperluan dapur.”
“Baik bu...” Tidak biasanya ibunya membangunkan dari tidur pada hari minggu di pagi buta, heran. Ada apa?
Setelah mandi dan berbenah, dengan daftar belanja yang berikan ibunya ia berangkat ke pasar Demangan di Jl. Gejayan, yang tidak jauh dari rumahnya di Gang Ambarkusumo Sleman Yogyakarta. Andi menyusuri trotoar Jl. Laksda Adisucipto kota Yogyakarta dengan berjalan kaki. Di tengah jalan, ia masih saja bertanya-tanya tentang sikap ibunya yang tidak biasanya ini. Dan sesampainya di depan pusat perbelanjaan Mall Lippo Plaza, Andi menyebrangi jalan raya ke utara untuk mengambil jalan pintas supaya cepat sampai ke pasar Demangan.
Setibanya di pintu pasar, matanya terbinar-binar melihat pemandangan pasar yang berbeda daripada hari biasanya. Banyak pajangan mainan, sulap, dan aneka mainan lainnya yang menggoda mata Andi.
”Wah, mantab ini, tidak menyesal saya bangun pagi, hihi.” Celetuknya cekikikan kegirangan melangkah ke dalam pasar.
Ibarat seorang pangeran kerajaan yang lupa akan tugas biungnya, secara bergantian Andi menghampiri pameran-pameran yang ia anggap menarik. Pertama, ia sambangi pajangan kaset yang selain menawarkan koleksi film terbaru, juga menawarkan keraoke sambil berjoget ria. Mulailah Andi meliuk-liukan pinggul mengikuti alunan musik dan lagu yang disenandungkan oleh seorang sopir angkot. Sudah bosan, kemudian Andi mengitarkan pandangan, tiba-tiba matanya tertuju pada segerombolan orang-orang yang bersorak-sorai layaknya penonton sepak bola. Andi mendekat, rupanya ada penampilan sulap. Tak urung, ia kegirangan melihat penampilan magic yang dibawakan badud itu, hingga semakin terlena dan lupa waktu. Lama Andi berada di pajangan sulap itu, akhirnya bosan menghampirinya juga. Lalu ia pindah ke tempat anak-anak yang bermain gasing. Bergegas ia menujunya, namun seketika ia akan sampai, tiba-tiba gerombolan anak itu membubarkan diri mengemasi gasingnya.
“Pak kok sudah tutup.?” Tanya Andi yang ingin sekali melihat permainan itu.
“Iya dek, ini kan pasarnya udah mau tutup, tuh semuanya mau pulang.” Jawab bapak penjaga seakan menyadarkan Andi. Seketika andi terperanjat, ia panik, belanjaan ibunya belum satupun iya beli. Semua kios sudah tutup. “ Bagaimana ini, ibu akan marah padaku.” Paniknya.
Andi mendatangi setiap toko itu, ia meminta untuk sebentar saja melayaninya berbelanja, namun si pemilik toko enggan membuka tokonya yang sudah ditutup rapi, “Sudah tutup nak, dari tadi kemana saja?”. Andi panik, gundah. Dia pulang dengan langkah gontai menatapi ayunan kaki kecilnya, menyesali perbuatannya telah mengabaikan perintah ibunya. Entah apa yang akan disampaikan kepada ibunya setibanya di rumah nanti.
 “Andi, kenapa lama sekali nak, mana belanjaanya?.” Tanya ibunya.
“Anu bu, anu...” Andi menjelaskan semua apa yang ia lakukan di pasar, Ibunya menggelengkan kepala, namun ia enggan memarahi anaknya yang baru umur 15 tahun tersebut.
“Nak, kalau ke pasar itu ya belanja dulu, baru nonton pameran, supaya setelah pasar ditutup Andi sudah mendapatkan apa yang Andi cari.” nasihat Ibu Fatimah kepada anaknya yang menunduk ketakutan.


“Jadi, tujuan itu harus diutamakan Andi.”
“Iya bu, Andi minta maaf, Andi menyesal.” Andi terisak.
“Sudah, Nak. Ibu tidak marah kok, oh ya, PR mu sudah dikerjakan?.” Ibu Fatimah mengingatkan. “Belum, bu.” Andi gugup. Ibu Fatimah menggelengkan kepala untuk kedua kalinya.
“Andi, sekolah itu sama seperti ke pasar tadi. Sekolah itu belanja ilmu di sekolah. Semua harus dipelejari dengan sungguh-sungguh sebelum sekolah tutup.”
“Emang sekolah tutup, bu?.” Andi belum mengerti sepenuhnya. Ibundanya hanya tersenyum.
“Nak, bila kamu sudah lulus dari sekolah, dan hari-harimu hanya diisi bermain tidak belajar, dan waktu itu kamu sadar banyak yang belum kamu pelajari, apa kamu bisa kembali ke dalam kelas lagi, belajar di kelas lagi?.”
“Tidak, bu...” Sahut Andi tanda mengerti.
Pagi itu Andi serasa memperoleh pelajaran yang sangat berharga dari Ibunya tercinta tentang menghargai dan menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya.

Bay. Salim S Shabir

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "MENGHARGAI WAKTU UNTUK BELAJAR"

Post a Comment