Tahun Baru, Kukuhkan Niat Berbangsa


foto tahun baru

Belum lama ini tahun berhijrah ke tahun yang baru, gegap gempita bangsa di belahan dunia menyambut tahun 2020 dengan kembang api dan bunyi terompet yang memekakkan telinga. Supaya tahun ini tidak hanya sekedar berganti dan merayakannya dengan kembang api, ada baiknya sejenak kita merenungi apa yang telah kita perbuat untuk negeri ini di tahun-tahun sebelumnya. Sudahkah kita sebagai bangsa mempersembahkan bakti terbaik kepada negeri ini, ataukah kita hanya mengaku sebagai bangsa Indonesia saja, tetapi tingkah laku kita hanya merongrong negeri ini dengan hasrat mengganti namanya dengan “khilafah” ?. Ketahuilah, tidak ada hijrah terbaik bagi negeri ini dari tahun ke tahun berikutnya kecuali dengan mengukuhkan kembali niat dalam berbangsa dan bertanah air.

Rasullah Saw. pernah bersabda tentang niat : “Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan balasan sesuai apa yang diniatkan. Barangsiapa yang hijrahnya hanya berniat mendapatkan dunia, atau berniat ingin mendapatkan wanita yang ingin dinikahi, maka ia hanya mendapatkan apa yang diniatkan di dalam berhijrahnya tersebut.” (HR. Bukhari dari Umar Bin Khattab).

Hadits di atas mengisyaratkan, betapa pentingnya sebuah niat bagi seseorang dalam bertindak, bahwa bila yang diniatkan hanya untuk kepentingan yang bersifat sementara atau suatu golongan, maka itulah yang ia dapatkan dan tidak mempunyai dampak positif bagi sekelilingnya, bahkan dapat menjadi sumber kekacauan. Hal itu juga berlaku di dalam berbangsa dan bernegara.

Sudah terhitung 74 tahun negeri ini berhijrah dari kekuasaan penjajah menjadi negeri yang merdeka dan bedaulat. Hal itu bukan diraih dengan keajaiban atau sulap bimsalabim abra-kadabra, melainkan dengan perjuangan yang diniatkan dengan tulus oleh para pahlawan kita. Sebelum Indonesia merdeka, para penggagas negeri ini sudah meletakan niat yang luhur dan tulus dalam menjadikan Indonesia sebagai negara kesatuan yang dapat menaungi seluruh tumpah darah, suku, etnis dan ras. Wujud niat luhur itu dapat kita rasakan hingga saat ini dalam bingkai Pancasila sebagai dasar negara.
Dalam merumuskan Pancasila, Bung Karno, Bung Hatta, Moh. Yamin, Soepomo dan kalangan ulama ataupun dari agama lain, bukan ujub-ujub  dan menuruti nafsu belaka, akan tetapi dengan penuh perenungan dan pertimbangan supaya setiap bangsa yang ada di Indonesia ini dapat hidup berdampingan tanpa diskriminasi apapun. Inilah yang disebut dengan niat luhur dan perjanjian yang amat penting (mitsaqan ghalidzan) yang tidak boleh diciderai oleh siapapun, lebih-lebih berhasrat ingin menggantinya dengan ideologi radikal.

Pancasila Sebagai Pejanjian Semua Bangsa

Pancasila bukan diambil dari keinginan pribadi atau satu kelompok, akan tetapi murni digali dari perut bumi ibu pertiwi yang mencerminkan kepribadian dan kekayaan budaya bangsa Indonesia. Sehingga Pancasila tidak akan pernah bertentangan dengan perilaku bangsa manapun di negeri ini. Semua merasa sama dan menyatu di bawahnya, tidak terdiskriminasi.
Perasaan diskriminasi itu pernah dirasakan oleh kelompok di luar umat Islam (18 Agustus 1945) sebelum disahkannya Pancasila sebagai dasar negara, mereka keberatan dengan sila pertama yang berbunyi, “Ketuhanan Dengan Kewajiban Menjalankan Syariat Islam Bagi Pemeluk-Pemeluknya”, maka kata itu diganti dengan “Ketuhanan Yang Maha Esa”, untuk mengantisipasi kekacauan antar umat beragama (dikutip dalam Piagam Jakarta, 1981).

Perlunya Mengukuhkan Niat

Pancasila sebagai nikmat terbesar yang dihadiahkan untuk kemerdekaan Indonesia dari tangan penjajah perlu dijaga dengan sebaik-baiknya. Menjaga Pancasila bukan hanya dengan menjadikannya sebagai semboyan untuk mengecam dan mengutuk perilaku yang tidak Pancasilais oleh golongan radikal atau yang lainnya, akan tetapi perlu merenungi kembali perjalanan panjang bangsa ini dalam memperjuangkan kemerdekaan.

Pengorbanan para pejuang dengan bambu runcing turun ke gelanggang perang melawan penjajah, meninggalkan keluarga dan tanah lahirnya demi kemerdekaan semua bangsa dari penindasan, kemerdekaan yang menyatukan semua perbedaan, bahkan tidak sedikit nyawa yang melayang dalam pertempuran tersebut. Masihkah kita ingin menghianati keringat para pejuang tersebut dengan nafsu khilafah yang sama sekali tidak dapat dipertanggung jawabkan ?, sekali-kali jangan !

Maka, setelah perenungan dan penghayatan panjang tersebut, dapatlah kita temukan apa yang harus diperjuangkan untuk negeri ini, yaitu tiada lain dengan mengamalkan dan mewariskannya kepada generasi selanjutnya supaya Pancasila tidak menjadi semboyan kosong dikemudian hari. Namun, tujuan tersebut tidak akan tercapai dengan sempurna tanpa memurnikan kembali niat berbangsa dan bertanah air dengan setulus-tulusnya. Kesaktian nilai Pancasila tidak akan pernah hadir bila di dalam benak bangsa ini masih memiliki kepentingan pribadi ataupun kelompoknya sendiri tanpa memikirkan nasib saudaranya setanah air. 

Oleh karena itu, mari luruskan niat berbangsa kita seperti para Founding Fahter berniat mendirikan negara Indonesia ini dengan dasar Pancasila. 



Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Tahun Baru, Kukuhkan Niat Berbangsa"

Post a Comment